Selasa, 12 Januari 2016
Kuputuskan Memakai Jilbab
Saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK) antara kelas satu dan dua (aku kurang ingat) aku mulai belajar memakai jibab(jilbab di sini maksudnya kerudung ya bukan gamis), awalnya yang membuatku tahu kalau jilbab itu wajib bagi seorang muslimah adalah dari seorang teman, terjadi percakapan ringan antara aku dengan seorang teman yang juga tetanggaku, waktu itu aku melihat seorang gadis berjilbab yang lewat di jalanan, akupun iseng bertanya kepada temanku itu
Aku: sebenernya hukum menggunakan jilbab itu apa sih?
Dia: hukum memakai jilbab itu sama seperti hukum mengerjakan sholat!
Appa?!! Aku ternganga mendengar jawaban temanku dan masih nggak percaya
Aku: masak sih??
Dia: iya, nggak percaya?? Kan ada perintahnya di dalam al qur’an surah apa mungkin tempatnya..
Aku: o..ya udah ayok dong kita pakai jilbab
dia tak merespon malah memperlihatkan ekspresi yang aneh, yang membuatku tertawa. Tapi aku beruntung sekali punya teman sepertimu, aku jadi tahu betapa pentingnya menggunakan jilbab bahkan hukumnya wajib sama seperti shalat. Perintah Allah untuk muslimah agar mengenakan jilbab terdapat dalam al-qur’an surah an-nur ayat 59, yang berbunyi : “ wahai nabi suruhlah istri-istrimu, anak-anakmu, dan istri-istri kaum muslimin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka agar mereka lebih mudah untuk dikenal dan mereka tidak diganggu”.
Mengingat usiaku yang sudah baligh berarti sudah wajib untuk mematuhi perintahNya (bila seorang sudah baligh berarti sudah mendapat beban taklif yaitu beban untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban syar’i dan pada sat itu juga hukuman telah berlaku baginya bilamana dia meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah diwajibkan kepadanya) saat itu akupun mulai mengenakan jilbab di rumah, walaupun masih belum sempurna karena jilbab yang kukenakan untuk pertama kali di luar jam sekolah ini persis seperti cara pake jilbabnya si Marsha dalam film kartun “Marsha & the Bear”, stok jilbab yang masih sangat kurang dan yang ada hanya jilbab sejenis roshini saja. Sebenarnya ada rasa malu terbersit di dalam hatiku melihat disekitar rumahku tak ada yang mengenakan jilbab(menutup aurat) dikesehariannya kecuali pada saat mau pergi saja baru mereka mengenakan jilbab. Perlahan-lahan aku mulai memperbaiki jilbabku, seorang guru menjelaskan tentang jilbab, bagaimana cara berjilbab yang bener, dan mengomentari cara berjilbab yang salah” ada yang menggunakan jilbab tapi masih keliatan auratnya, kelihatan lehernya, kelihatan dadanya..” teman di belakangku bisikin “ tuu ana yang kayak gitu..” aku tersenyum malu mendengar kritikan tersebut, akupun mulai merubah cara jilbabku jadi pake peniti sehingga lebih baik lagi.
Suatu hari guru olahragaku menginformasikan bahwa kami akan belajar renang ke putri duyung, aku jadi resah bagaimana aku akan ke sana nggak mungkin menggunakan jilbab belahan, jilbab jadipun aku tak punya, aku nggak mungkin membuka jilbab seperti yang teman-teman lakukan, aku sudah memutuskan untuk berjilbab. aku menanyakan seorang teman yang sudah tahu hukum jilbab bagaimana ia akan ke sana apakah dia akan pakai jilbab atau gimana, jawabnya “ aku akan pakai jilbab, tapi setelah selesai olahraga renang ini” aku tersenyum mendengar jawabannya, namun dalam hati aku bingung dengan apa yang ia katakan udah tahu hukum jibab tapi kok mau pake jilbabnya setelah olahraga renang, menjalankan syari’at kan nggak butuh kompromi. Seharian aku gelisah memikirkan olahraga renang ini, kalau aku pergi aku nggak punya jilbab, kalau nggak pergi nilai rapotku gimana? Perasaanku bener-bener ruwt. Hari H nya pun tiba, ada dua teman menjemputku ke rumah tapi aku menolaknya dan memutuskan untuk tidak pergi walaupun mereka dan ibuku juga memaksaku untuk ikut. 2 kali pertemuan aku tak pernah hadir padahal pertemuan terakhir katanya akan dinilai, aku nggak tau nilai rapotku datang dari mana, kalau di bilang dari nilai absensi aku nggak pernah hadir, waktu ulangan juga aku jawabnya asal-asalan, aku nggak tau mana gaya kupu-kupu, gaya katak dan sebagainya, nyontekpun aku nggak mau (aku orangnya gengsi bgt nyontek, kalo nggak ditawarin sama teman lebih dulu haha), apa itu nilai pengertiannya pak Fatur kali ya,,hehe trimakasih pak terimakasih Tuhan..
BERSAMBUNG
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MENGHARUKAN
BalasHapus